Jalan ke Kuburan
Dulu jalan ini tak se-sempit sekarang, dua orang dewasa bisa berjalan sejajar tanpa takut terperosok ke dalam sawah. 12 tahun berlalu memang tidak sebentar, banyak sekali yang berubah di desa kami, termasuk jalan menuju ke pemakaman umum. Kami heran, kenapa orang perdesaan yang dulu kami kenal mudah dalam memberi berubah menjadi begitu pelit. Waktu kami masih kecil, jalan-jalan dari rumah kerumah lebar-lebar, jalan di pematang sawah besar-besar, selokan lebar dan bersih dari sampah plastik. 12 tahun berlalu memang tidak sebentar, hampir semua yang kami temui dulu menjadi asing saat ini.
Sepanjang jalan ke makam nenek dan kakekku di pemakaman umum, dalam hatiku aku terus bertanya-tanya..”siapa sih yang mengurus sawah ini sekarang? Kok jalan pematang sawah ke pemakaman semakin sempit”. Kami tahu bahwa sawah yang luas ini bukan milik orang di desa kami, melainkan punya orang kota di Bandung. Tidak sedikit diantara kami yang menjadi buruh di kampung sendiri, termasuk petani yang mengurus sawah yang kami lalui ini.
Kami heran, padahal jalan ini adalah jalan utama menuju pemakaman. Jalan terdekat dari kampung kami ke pemakaman umum ya ini jalan setapak di tengah sawah milik orang kota. Sekarang hanya cukup untuk satu orang saja, ketika ada orang meninggal dan dipikul dalam keranda, maka dua orang yang memikul pasti akan berjalan di dalam lumpur sawah. Sungguh terlalu aku pikir, mungkin tak pernah terpikir oleh pengurus sawah ini jika dia mati.
Kami mengetahui dari para guru kami, bahwa memberi jalan bagi orang-orang merupakan suatu ibadah yang akan terus mengalir pahalany sampai kapanpun walau sang pemberi jalan meninggal dunia selama jalan itu masih dipakai untuk berjalan. Mungkin mereka tidak tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu, tapi sepertinya merekaa lupa kali ya..hehe
Ya ini sekedar curhat dari seorang yang kesusahan menuju makam kakek dan neneknya saat musim tanam padi tiba. Jalan pematang sawah (galengan kami menyebutnya) masih basah dengan lumpur (dipopok) sehingga harus gulung celana masuk ke lumpur sawah..sabar-sabar. Ya Allah mudah-mudahan sawah ini dapat aku beli, akan aku buat jalan yang lebih lebar dari sekarang, Aamiin….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar